Kau akan merindukan hujan jika dia tak lagi berdendang ria diluar sana, menghalangimu pergi atau sekedar melihat barisan tetes air yang turun dari langit dan kau akan merindukan panas jika terik tak membersamaimu di hari cerahmu, itu karena jarak dan
waktu yang membuatnya bernama
rindu.
_ias_27/12/13
# desemberrain
Pages - Menu
▼
Jumat, 27 Desember 2013
Desember Rain
Rabu, 25 Desember 2013
Selasa, 24 Desember 2013
Teknik Radiografi Dental
Teknik Radiografi gigi terdiri
dari 2 yaitu:
A. Intra Oral Radiography
1) Periapikal
Radiography
a) Bisecting
Angle Technique
Misalnya : gigi impaksi dapat
dilihat lebih ke mesial atau ke apical.
Tekniknya:
1. Film
diletakkan pada bagian lingual atau palatinal dari gigi yang akan difoto
2. Salah
satu ujung film menyentuh bagian incisal dari gigi dan membentuk sudut dengan long
axis gigi
3. X-ray
tube/ sinar central tegak lurus dengan garis (khayal) yang membagi dua sudut
yang dibentuk antara long axis gigi dengan film
4. Hasilnya
tampak gigi-gigi RA atau RB maksimal 4 gigi untuk gigi anterior dan 3 gigi
untuk gigi posterior
b) Paralelling
Technique
1. Film
diletakkan pada bagian palatinal atau lingual gigi yang akan difoto
2. Film
diletakkan sejajar dengan long axis gigi dengan memakai ‘Film Holder’
3. Sinar
sentral diarahkan tegak lurus terhadap axis gigi dan film
4. Teknik
ini menghasilkan gambar yang lebih baik daripada teknik bisecting angle.
2) Bitewing
Radiography
Sering disebut “Proximal Radiografi”
Tekniknya:
1. Film
diletakkan dengan pegangan khusus dan pasien diatur sedimikian rupa (posisi dataran
oklusal dengan lantai)
2. Film
diletakkan pada bagian lingual dan palatinal pada gigi yang akan difoto
3. Penderita
diinstruksikan untuk menggigit ringan pegangan sayap-sayap film
4. Sinar
sentral diarahkan tegak lurus terhadap film
5. Hasilnya
akan nampak gigi RA dan RB dalam keadaan hampir oklusi (mahkota kelihatan
seluruhnya dan bagian akar hanya kelihatan sebagian)
3) Occlusal
Radiography
a) Maxillary
Occlusal Radiography
-
Standar Maxillary Occlusal Radiography
1.
Film diletakkan diantara gigi RA dan RB
mulai dari gigi anterior ke gigi posterior.
2.
Pasien diinstruksikan untuk menggigit ringan
film.
3.
Tube sinar x diletakkan di tengah-tengah
hidung dengan arah sinar sentral membentuk sudut 65 o -70o dengan
film.
4.
Hasilnya terlihat gigi anterior dan palatum
durum, untuk gigi posterior yang nampak hanya mahkotanya.
5.
Tekniknya dilakukan demikian untuk
menghindari tumpukan gambar dari tulang frontal. Sedangkan titik masuk sinar
pada bagian tengah hidung berguna untuk melihat gigi posterior dan adanya
kelainan pada palatum. Gigi impaksi dapat dilihat lebih ke bukal atau palatal.
-
Oblique Posterior Occlusal Radiography
1.
Film diletakkan antara gigi RA dan RB
mulai dari gigi anterior ke gigi posterior
2.
Pasien diinstruksikan untuk menggigit
ringan film (untuk menahan film)
3.
Tube sinar X diletakkan pada daerah gigi
yang akan difoto
4.
Arah sinar sentral membentuk sudut 60o
terhadap film
5.
Hasilnya terlihat gigi posterior
(mahkota akar) dan palatum, untuk gigi anterior yang tampak jelas hanya
insisalnya
6.
Teknik ini digunakan untuk
memperlihatkan struktur dan beberapa keadaan patologis yang berasal dari daerah
maxilla, akar gigi molar (akar palatinal), akar yang terletak dalam gingival
-
Vertex Occlusal Radiography
1.
Film diletakkan antara gigi RA dan RB
2.
Pasien diinstruksikan menggigit film
3.
Tube diletakkan pada atap tengkorak pada
bagian depan
4.
Arah sinar sentral sejajar dengan sumbu/
as panjang gigi incisivus anterior
5. Teknik ini digunakan untuk menentukan
letak gigi impaksi pada hubungan buccopalatinal dalam lengkung gigi.
b) Mandibular
Occlusal Radiography
-
Anterior Occlusal mandibula radiography
1. Film
diletakkan antara gigi RAdan RB
2. Tube
sinar X diletakkan pada sympisis menghadap ke atas dimana sinar sentral
membentuk sudut 60o terhadap film
3. Hasilnya
terlihat gigi anterior (mahkota-akar) dan gigi posterior tampak hanya
mahkotanya
4. Teknik
ini untuk melihat gigi region anterior, untuk anak kecil yang tidak kooperatif
bila dilakukan periapikal foto atau kasus dimana lengkung rahang sangat sempit.
-
True Occlusal Mandibula Radiography
1. Kepala
pasien diatur dalam keadaan mendongak dengan posisi “ala tragus line” hampir
tegak lurus dengan lantai.
2. Tube
diletakkan di midline dasar mulut dengan arah sinar menghadap ke mandibula
3. Hasilnya
dapat melihat benda asing di dasar mulut dan batu yang menyumbat saliran keluar
saliva, terlihat juga gigi anterior (mahkota-akar), gigi posterior kelihatan
hanya mahkotanya
B. Ekstra Oral Radiografi
1)
Panoramic
·
Merupakan pesawat dental x-ray yang
dapat sekaligus membuat foto dari ke seluruh gigi (RA/RB)
·
Pesawat panoramic ini biasanya
dikombinasikan dengan cephalometrik
·
Alat ini membuat seluruh gambar gigi
pasien dengan teknik tabung bergerak bersama film sewaktu dilakukan expose,
tetapi ada pula hanya filmnya bergerak sedangkan tabungnya tetap di tempat.
Alat ini digerakkan oleh motor penggerak selam expose berlangsung
·
Film panoramic (15 cm x 30 cm) dikemas
dalam suatu kantong khusus
·
Pesawat panoramic berkapasitas antara
lain : 8 mA, 12 mA, 15 mA dengan tegangan 40-100 kv dan waktu expose 15-20
detik
2)
Cephalometri
· Merupakan
alat bantu khusus digunakan pada pemeriksaan orthodonti
· Radiografi
alat ini dipasang pada dinding kamar periksa dan ada yang sudah terpasang pada
alat secara keseluruhan tidak dipasng di dinding
· Mempunyai
alat fiksasi kepala pasien maupun kaset
· Alat
ini dirancang sedimikian rupa sehingga hubungan kepala pasien dan kaset secara
tepat dapat diperoleh, berfungsi untuk fiksasi antero-posterior maupun posisi
lateral terhadap kaset
· Kepala
pasien difiksasi pada kedua daerah telinga
· Posisi
hidung yang menunjukkan posisi kepala pasien yang tepat terhadap kaset
tergantung di belakang kepala pasien
· Demikian
pemeriksaan/ pembuatan foto radiografi dapat dilakukan tanpa objek bergerak
padawaktu expose dilakukan
Alat X-ray yang
digunakan untuk pembuatan foto radiografi ini berkapasitas 150 mA dan 125 kv
Sumber:
1. White SC, Pharoah MJ. Oral radiology:
Principles and interpretation. Fifth Edition. St Louis: Mosby;2004.
2. Paler FA. Color atlas
of dental medicine: Radiology. Thieme
Poster Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut
Pembuatan poster penyuluhan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu program kerja saya saat KKN Profesi Kesehatan Angkatan 44 dengan sasaran murid sekolah dasar Posko Manongkoki, Kecamatan Polombangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Rabu, 18 Desember 2013
Instrument dalam Lab Mikrobiologi
A. Mikroskop Cahaya (Brightfield Microscope)
Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah mikroskop cahaya. Dengan mikroskop kita dapat mengamati sel bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada umumnya mata tidak mampu membedakan benda dengan diameter lebih kecil dari 0,1 mm. berikut merupakan uraian tentang cara penggunaan bagian-bagiandan spesifikasi mikroskop cahaya merk Olympus CH20 yang dimiliki Laboratorium Mikrobiologi.
Bagian-bagian Mikroskop:
1. Eyepiece / oculars (lensa okuler)
Untuk memperbesar bayangan yang dibentuk lensa objektif
2. Revolving nosepiece (pemutar lensa objektif)
Untuk memutar objektif sehingga mengubah perbesaran
3. Observation tube (tabung pengamatan / tabung okuler)
4. Stage (meja benda)
Spesimen diletakkan di sini
5. Condenser (condenser)
Untuk mengumpulkan cahaya supaya tertuju ke lensa objektif
6. Objective lense (lensa objektif)
Memperbesar spesimen
7. Brightness adjustment knob (pengatur kekuatan lampu)
Untuk memperbesar dan memperkecil cahaya lampu
8. Main switch (tombol on-off)
9. Diopter adjustmet ring (cincin pengatur diopter)
Untuk menyamakan focus antara mata kanan dan kiri
10. Interpupillar distance adjustment knob (pengatur jarak interpupillar)
11. Specimen holder (penjepit spesimen)
12. Illuminator (sumber cahaya)
13. Vertical feed knob (sekrup pengatur vertikal)
Untuk menaikkan atau menurunkan object glass
14. Horizontal feed knob (sekrup pengatur horizontal)
Untuk menggeser ke kanan / kiri objek glas
15. Coarse focus knob (sekrup fokus kasar)
Menaik turunkan meja benda (untuk mencari fokus) secara kasar dan cepat
16. Fine focus knob (sekrup fokus halus)
Menaik turunkan meja benda secara halus dan lambat
17. Observation tube securing knob (sekrup pengencang tabung okuler)
18. Condenser adjustment knob (sekrup pengatur kondenser)
B. Autoclaf
Diagram autoklaf vertical
1. Tombol pengatur waktu mundur (timer)
2. Katup pengeluaran uap
3. pengukur tekanan
4. kelep pengaman
5. Tombol on-off
6. Termometer
7. Lempeng sumber panas
8. Aquades (dH2O)
9. Sekrup pengaman
10. batas penambahan air
Autoclave adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC (250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121oC.
Cara Penggunaan :
1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.
2. Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol beretutup ulir, maka tutup harus dikendorkan.
3. Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.
4. Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.
5. Tunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.
6. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.
C. INKUBATOR
suhu 35 ± 37o C selama 1 x 24 jam pada jamur.
D. COLONY COUNTER
E. Biological Safety Cabinet
Biological Safety Cabinet (BSC) atau dapat juga disebut Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena BSC mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasisinar UV beberapa jam sebelum digunakan. Prosedur penggunaan BSC seri 36212, Purifier™ Biological Safety Cabinet dari LABCONCO yang dimiliki laboratorium mikrobiologi adalah sebagai berikut:
1. Hidupkan lampu UV selama 2 jam, selanjutnya matikan segera sebelum mulai bekerja
2. Pastikan kaca penutup terkunci dan pada posisi terendah
3. Nyalakan lampu neon dan blower
4. Biarkan selama 5 menit
5. Cuci tangan dan lengan dengan sabun gemisidal / alkohol 70 %
6. Usap permukaan interior BSC dengan alkohol 70 % atau desinfektan yang cocok dan biarkan menguap
7. masukkan alat dan bahan yang akan dikerjakan, jangan terlalu penuh (overload) karena memperbesar resiko kontaminan
8. Atur alat dan bahan yang telah dimasukan ke BSC sedemikian rupa sehingga efektif dalam bekerja dan tercipta areal yang benar-benar steril
9. Jangan menggunakan pembakar Bunsen dengan bahan bakar alkohol tapi gunakan yang berbahan bakar gas.
10. Kerja secara aseptis dan jangan sampai pola aliran udara terganggu oleh aktivitas kerja
11. setelah selesai bekerja, biarkan 2-3 menit supaya kontaminan tidak keluar dari BSC
12. Usap permukaan interior BSC dengan alkohol 70 % dan biarkan menguap lalu tangan dibasuh dengan desinfektan
13. Matikan lampu neon dan blower
Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah mikroskop cahaya. Dengan mikroskop kita dapat mengamati sel bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada umumnya mata tidak mampu membedakan benda dengan diameter lebih kecil dari 0,1 mm. berikut merupakan uraian tentang cara penggunaan bagian-bagiandan spesifikasi mikroskop cahaya merk Olympus CH20 yang dimiliki Laboratorium Mikrobiologi.
Bagian-bagian Mikroskop:
1. Eyepiece / oculars (lensa okuler)
Untuk memperbesar bayangan yang dibentuk lensa objektif
2. Revolving nosepiece (pemutar lensa objektif)
Untuk memutar objektif sehingga mengubah perbesaran
3. Observation tube (tabung pengamatan / tabung okuler)
4. Stage (meja benda)
Spesimen diletakkan di sini
5. Condenser (condenser)
Untuk mengumpulkan cahaya supaya tertuju ke lensa objektif
6. Objective lense (lensa objektif)
Memperbesar spesimen
7. Brightness adjustment knob (pengatur kekuatan lampu)
Untuk memperbesar dan memperkecil cahaya lampu
8. Main switch (tombol on-off)
9. Diopter adjustmet ring (cincin pengatur diopter)
Untuk menyamakan focus antara mata kanan dan kiri
10. Interpupillar distance adjustment knob (pengatur jarak interpupillar)
11. Specimen holder (penjepit spesimen)
12. Illuminator (sumber cahaya)
13. Vertical feed knob (sekrup pengatur vertikal)
Untuk menaikkan atau menurunkan object glass
14. Horizontal feed knob (sekrup pengatur horizontal)
Untuk menggeser ke kanan / kiri objek glas
15. Coarse focus knob (sekrup fokus kasar)
Menaik turunkan meja benda (untuk mencari fokus) secara kasar dan cepat
16. Fine focus knob (sekrup fokus halus)
Menaik turunkan meja benda secara halus dan lambat
17. Observation tube securing knob (sekrup pengencang tabung okuler)
18. Condenser adjustment knob (sekrup pengatur kondenser)
B. Autoclaf
Diagram autoklaf vertical
1. Tombol pengatur waktu mundur (timer)
2. Katup pengeluaran uap
3. pengukur tekanan
4. kelep pengaman
5. Tombol on-off
6. Termometer
7. Lempeng sumber panas
8. Aquades (dH2O)
9. Sekrup pengaman
10. batas penambahan air
Autoclave adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan. Tekanan yang digunakan pada umumnya 15 Psi atau sekitar 2 atm dan dengan suhu 121oC (250oF). Jadi tekanan yang bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per square inch). Lama sterilisasi yang dilakukan biasanya 15 menit untuk 121oC.
Cara Penggunaan :
1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.
2. Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol beretutup ulir, maka tutup harus dikendorkan.
3. Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.
4. Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.
5. Tunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15’ dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.
6. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.
C. INKUBATOR
Inkubator adalah alat untuk menginkubasi atau memeram mikroba pada suhu yang terkontrol. Alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan pengatur waktu. Kisaran suhu untuk inkubator produksi Heraeus B5042 misalnya adalah 10-70oC.
Alat ini berfungsi sebagai meremajakan mikroba atau bakteri yang dilakukan pada suhu 35 ± 37o C selama 1 x 24 jam pada jamur.
D. COLONY COUNTER
E. Biological Safety Cabinet
Biological Safety Cabinet (BSC) atau dapat juga disebut Laminar Air Flow (LAF) adalah alat yang berguna untuk bekerja secara aseptis karena BSC mempunyai pola pengaturan dan penyaring aliran udara sehingga menjadi steril dan aplikasisinar UV beberapa jam sebelum digunakan. Prosedur penggunaan BSC seri 36212, Purifier™ Biological Safety Cabinet dari LABCONCO yang dimiliki laboratorium mikrobiologi adalah sebagai berikut:
1. Hidupkan lampu UV selama 2 jam, selanjutnya matikan segera sebelum mulai bekerja
2. Pastikan kaca penutup terkunci dan pada posisi terendah
3. Nyalakan lampu neon dan blower
4. Biarkan selama 5 menit
5. Cuci tangan dan lengan dengan sabun gemisidal / alkohol 70 %
6. Usap permukaan interior BSC dengan alkohol 70 % atau desinfektan yang cocok dan biarkan menguap
7. masukkan alat dan bahan yang akan dikerjakan, jangan terlalu penuh (overload) karena memperbesar resiko kontaminan
8. Atur alat dan bahan yang telah dimasukan ke BSC sedemikian rupa sehingga efektif dalam bekerja dan tercipta areal yang benar-benar steril
9. Jangan menggunakan pembakar Bunsen dengan bahan bakar alkohol tapi gunakan yang berbahan bakar gas.
10. Kerja secara aseptis dan jangan sampai pola aliran udara terganggu oleh aktivitas kerja
11. setelah selesai bekerja, biarkan 2-3 menit supaya kontaminan tidak keluar dari BSC
12. Usap permukaan interior BSC dengan alkohol 70 % dan biarkan menguap lalu tangan dibasuh dengan desinfektan
13. Matikan lampu neon dan blower
Snus (Nass) dan Kanker Rongga Mulut : Laporan Seri Kasus
Laporan Kasus
Snus (Nass) dan Kanker Rongga Mulut : Laporan Seri
Kasus
Maryam
Alsadat Hashemipour, Farzad
Gholampour, Fatemeh Fatah, Samaneh Bazregari
ABSTRAK
Snus (nass) adalah sejenis
tembakau sedotan yang penggunaannya mirip dengan tembakau celup Amerika, tetapi
biasanya tidak mengakibatkan kebutuhan untuk meludah. Bahaya yang mungkin diakibatkan
oleh bahan ini meliputi lesi ganas dan pra-ganas di rongga mulut dan saluran
pencernaan. Penggunaan tembakau tanpa asap telah meningkat di Timur Tengah
dalam beberapa dekade terakhir, khususnya di kalangan remaja dan dewasa
muda. Oleh karena itu, praktisi harus mampu mengenali lesi ganas dan
pra-ganas. Meskipun, diperkirakan 10-25% dari populasi dunia menggunakan
tembakau tanpa asap, praktik ini hampir tidak dikenal di Iran. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk melaporkan serangkaian kasus karsinoma sel skuamosa
dan karsinoma verukosa pada pengguna snus, yang dirujuk ke Departemen Oral
Medicine di Kerman Dental School.
Kata kunci: Kanker rongga mulut, tembakau tanpa
asap, snus, karsinoma sel skuamosa, karsinoma verukosa
PENDAHULUAN
Penggunaan tembakau
merupakan salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan kanker rongga mulut
dan faring. [ 1 ] Ada banyak jenis produk tembakau tanpa asap seperti dikunyah,
, dicelup, snus atau nass, yang digunakan dengan menempatkan dan mengunyah
sejumlah kecil zat antara pipi dan gusi atau gigi. [ 2 ]
Di
Eropa dan Amerika Utara, tembakau yang dkunyah dan tembakau sedotan adalah dua
produk utama. Di
Daerah ini, terdapat tembakau kering dan basah, tembakau basah biasanya
digunakan di Skandinavia dan Amerika Serikat. Pada umumnya tembakau basah ditempatkan di bawah bibir atas, bibir bawah
atau disimpan di daerah gingiva bagian bukal, tetapi tembakau kering
ditempatkan di rongga mulut atau diberikan melalui hidung. Sebagian besar pengguna tembakau
dengan cara mengunyah dapat mengkonsumsi selama beberapa jam dalam sehari. [ 2 ]
Snus
(disebut "nass" di Iran, Afghanistan dan Pakistan) atau tembakau
Swedia digunakan dengan cara menempatkannya di bawah bibir untuk waktu yang
lama. Ini
adalah produk tembakau bubuk basah yang dihasilkan dari varian tembakau kering
di awal abad kesembilan belas di Swedia. Bahan ini merupakan campuran
dari Praha pan, biji-bijian kasar dan pohon merah bersama dengan daun tembakau,
kapur, abu rempah-rempah, sakarin dan berbagai minyak. [ 3, 4 ]
Selama
beberapa dekade terakhir, penggunaan tembakau tanpa asap telah meningkat di
Timur Tengah, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda. [ 3 ] Prevalensi tembakau tanpa
asap dikaitkan dengan usia mencerminkan perubahan besar selama beberapa dekade
dalam penggunaan tembakau tanpa asap. Pada tahun 1970, 2,2% orang
dewasa laki-laki kulit putih berusia 18 hingga 24 tahun mengunyah tembakau atau
tembakau sedotan. Prevalensinya
lebih tinggi pada usia yang lebih tua berturut-turut, memuncak pada 11,8%
antara orang kulit putih 65 tahun atau lebih. Pada tahun 1991, tren usia
terbalik, dengan 10,4% dari 18-24 tahun menggunakan produk ini dan orang tua
lebih sedikit menggunakannya: 7,9% dari 25-34 tahun, 5,4% dari 35-44 tahun, 3,8
% dari 45-64 tahun, dan 5,5% dari individu usia 65 tahun dan lebih tua. [ 5 ]
Hubungan antara penggunaan
tembakau tanpa asap dan kanker tercatat pada awal 1761, ketika seorang dokter
Inggris yang menjelaskan tentang hidung "polyposes", kemungkinan
terjadi kanker hidung pada beberapa pasiennya, yang dihubungkan dengan
penggunaan tembakau melalui hidung. [ 6 ] Kanker sering terjadi tepat di mana tembakau secara rutin
ditempatkan di bagian bawah mulut dan mukosa bukal atau gusi. [ 7 ]
Oleh sebab itu, Penulis
melaporkan serangkaian kasus karsinoma sel skuamosa dan karsinoma verukosa
terjadi pada pengguna snus, yang dirujuk ke Departemen Oral Medicine di Kerman
Dental School.
LAPORAN KASUS
Kasus 1
Seorang wanita Iran 78 tahun dirujuk ke Departemen Oral Medicine, Kerman
Dental School, oleh dokter giginya untuk mengevaluasi lesi eksofitik pada mukosa
bukal kanan,yang telah terlihat sejak 2 bulan lalu. Ukuran lesi
semakin membesar. Pasien tidak memiliki penyakit sistemik. Selain itu,
pasien memiliki kebiasaan snus selama 15 tahun terakhir di vestibulum mandibula
kanan tapi tidak mengkonsumsi alkohol.
Pada
pemeriksaan, terdapat sebuah lesi eksofitik dengan tepi indurasi, berukuran 8
cm x 4 cm, pada mukosa bukal kanan. Permukaan lesi
verukosa dengan warna putih dan tidak ada hubunganyya dengan limfadenopati [ Gambar 1 ].
Diagnosis
karsinoma verukosa dengan diagnosis banding dari karsinoma sel skuamosa. Di bawah anestesi lokal,
enukleasi lesi sederhana dilakukan.Pemeriksaan
histologi dari jaringan yang dipotong menunjukkan gambaran dari karsinoma verukosa
diferensiasi buruk. Mengingat
diagnosis karsinoma verukosa, penyelidikan lebih lanjut termasuk radiografi
dada dan hematologi dan tes darah biokimia menghasilkan hasil negatif. Operasi, kemoterapi dan
radioterapi yang dipertimbangkan untuk pasien. Selanjutnya, pemeriksaan
histologi dari spesimen utama mengkonfirmasikan adanya karsinoma verukosa dengan
parakeratin dan rete ridges lebar dan memanjang yang muncul untuk mendorong ke
dalam jaringan ikat yang mendasari [ Gambar 2 ]. Setahun kemudian, pasien
meninggal meskipun lesi telah disembuhkan dan respon yang relatif baik terhadap
pengobatan.
Kasus 2
Seorang
wanita 53 tahun rutin melakukan pemeriksaaan di dokter gigi, dia mengeluh sakit
di daerah sisi kanan dari mukosa bukal, timbul sejak 4 minggu yang lalu. Pasien menderita hipertensi
selama 10 tahun terakhir dan telah kecanduan opium 15 tahun yang lalu. Pasien memiliki kebiasaan
snus sejak 5 tahun yang lalu, sering memakai snus di daerah vestibulum
mandibula kanan tanpa konsumsi alkohol. Dokter mendiagnosanya
sebagai leukoplakia dan pasien dirujuk ke dental school untuk dilakukan biopsi. Dalam pemeriksaan intraoral,
sebuah verukosa putih berdiameter 5 cm meluas dari mukosa bukal kanan ke ridge
alveolar, lunak jika di palpasi. Tepi lesi eritematous dan
atrofi yang tampak sebagai indurasi [ Gambar 3 ].
Lesi dibiopsi dan
pemeriksaan histologis jaringan lunak menunjukkan tanda dari karsinoma sel
skuamosa awal dengan beberapa degenerasi sel, keratin pearl, nests dan cords
dari sel epitel ganas dengan sitoplasma lebar, bulat atau oval inti, dengan
nukleolus menonjol dan bermitosis [ Gambar 4].
Gambar 4 Awal karsinoma sel skuamosa
dengan beberapa degenerasi sel, keratin pearl, nest dan cords dari sel epitel
ganas dengan sitopla ma lebar, bulat atau oval berinti, dengan nukleolus
menonjol dan bermitosis.
Pasien
menjalani eksisi lesi total dan mengembalikan jaringan dengan menggunakan skin
graft. Setelah 3 tahun dilakukan follow up, pasien sudah bebas dari penyakitnya.
Kasus 3
Seorang
wanita 35 tahun dirujuk segera setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter gigi
yang mengeluh terdapat ulcer di lidahnya
sekitar selama 2 bulan. Pasien
mengeluh ulcer di sisi kanan dari lidahnya, yang sebelumnya telah asimtomatik,
tetapi sudah mulai menyebabkan ketidaknyamanan karena ukuran ulcer semakin
membesar. Ulkus
ini mengganggu pasien ketika makan. Riwayat medis sebelumnya
mengungkapkan bahwa pasien menderita hipertiroidisme. Jika tidak, riwayat medisnya
jelas, dan pasien memiliki kebiasaan snus selama 3 tahun terakhir di sebelah kanan
dari vestibulum mandibular lingual. Dari pemeriksaan intraoral, terdapat tanda
berkawah seperti ulkus (batas tegas dan dasar menurun) pada batas lateral kanan
lidah meluas ke permukaan dorsal lidah dengan diameter 6 cm, yang lunak dan
indurasi [ Gambar 5].
Insisi
biopsi telah dilakukan, menunjukkan karsinoma sel skuamosa yang buruk secara histopatologi. CT mengungkapkan dua nodul
abnormal di daerah submandibular kanan, yang jarum-dibiopsi, karsinoma sel
skuamosa metastasis terdeteksi. Setelah
operasi dan radioterapi pasien hanya bertahan selama 5 bulan.
Kasus 4
Seorang perempuan 82 tahun, dari provinsi Zahedan, dirujuk oleh dokter giginya
sehubungan dengan keluhan dari pertumbuhan pada alveolar kanan bawah pada
daerah sebelah kiri sejak 3 bulan yang lalu. Pertumbuhan pada
awalnya tersembunyi dan secara bertahap ukuran semakin membesar. Sejak minggu
pertama, pertumbuhan dikaitkan dengan berdenyut dan sakit parah. Tidak ada
riwayat medis yang relevan. Pasien merokok sampai 5 batang per hari selama 20
tahun terakhir dan memiliki kebiasaan memakai snus 4-5 kali sehari selama 20
tahun terakhir di vestibulum rahang bawah kiri.
Sebuah limfa
nodus pada kelenjar submandibular sangat terasa di sisi kiri, berukuran 4 cm,
yang lunak dan konsistensi terasa keras. Pada pemeriksaan intraoral, lesi
ulcero-proliferasi tampak jelas pada daerah ridge mandibula kiri, berukuran
sekitar 4 × 5 cm. Berbentuk
tidak teratur bentuknya dengan berguling-out tepi meluas ke dasar mulut. Pusat lesi
terdiri dari rawa keputihan-kuning. Lesi lembut
pada palpasi dengan basis indurasi, di samping itu, ada tanda seperti kawah
akibat adanya ulkus pada perbatasan vermilion kiri bibir [Gambar 6 dan 7 ].
Insisi
biopsi telah dilakukan untuk menegakkan diagnosis secara histopatologi , tampak
sel skuamosa karsinoma yang buruk.
Meskipun telah dilakukan operasi radikal dan radioterapi, pasien meninggal 5,5
bulan setelah operasi.
PEMBAHASAN
Penelitian ini menyajikan 4 kasus
kanker mulut yang terjadi pada pengguna snus. Karsinoma rongga
mulut pada pasien ini terjadi pada lokasi anatomi dimana bahan ini secara rutin
ditempatkan.
Sebuah
evaluasi terbaru oleh badan internasional untuk penelitian kanker (IARC) telah
mengkonfirmasi bahwa tembakau tanpa asap juga bersifat karsinogenik. [ 8 , 9 ] Berdasarkan
analisis tersebut, menunjukkan peningkatan dua kali lipat risiko kanker mulut pada
pengguna tembakau tanpa asap di Amerika Serikat dan Kanada, peningkatan lima
kali lipat risiko untuk India dan negara-negara Asia lainnya dan peningkatan
risiko tujuh kali lipat di Sudan. Tidak ada
peningkatan risiko untuk kanker mulut ditunjukkan dengan penggunaan tembakau
tanpa asap di negara-negara Nordik. [ 10 ] Di Inggris dan Eropa (dengan
pengecualian dari Swedia) penggunaan tembakau tanpa asap jarang kecuali pada
kelompok etnis minoritas. [ 11 ] Di Amerika
Serikat, hal itu tersebut menjadi masalah utama dengan 6% dari populasi orang
dewasa laki-laki sebagai pengguna biasa. [ 12 ] Di beberapa
daerah, khususnya negara-negara selatan, prevalensinya jauh lebih tinggi sampai
sepertiga dari pria muda yang menggunakan tembakau tanpa asap. [ 13]
Penyebab
utama dari insiden yang sangat tinggi pada kanker mulut di Asia Selatan adalah
kebiasaan luas mengunyah sirih pound
(atau paan) dan penggunaan pinang
(pinang adalah benih dari buah kelapa oriental, pinang catechu). [ 14 ] Mengunyah sirih
diperkirakan tanggal kembali ke setidaknya 2000 tahun dan di seluruh dunia
diperkirakan 200-400 juta orang memiliki kebiasaan tersebut. [ 15 ] Komponen pound sirih
bervariasi antara populasi yang berbeda tetapi bahan utama daun anggur , sirih,
pinang, kapur (kalsium hidroksida) dan rempah-rempah. [ 16 ] Tembakau diperkenalkan ke
Asia Selatan pada abad ketujuh belas. Pinang karsinogenik pada
manusia dan risiko kanker mulut meningkat dengan mengunyah paan tanpa tembakau,
meskipun risikonya lebih tinggi untuk paan yang mengandung tembakau. [ 17 , 18 , 19 , 20 ] Seperti dengan merokok
tembakau, risiko tergantung pada dosis dan durasi penggunaan. Di antara komunitas Asia di
Inggris, Bangladesh adalah yang paling mungkin untuk mempertahankan kebiasaan
mengunyah sirih susur dengan 9% pria dan 16% wanita yang menggunakan tembakau
tanpa asap. Yang paling umum digunakan untuk mengunyah sirih adalah tembakau
sirih pound. [21]
Oleh
karena itu, penggunaan tembakau tanpa asap terjadi di banyak budaya di seluruh
dunia, sehingga kejadian kanker mulut di negara-negara tersebut juga banyak. Sebagai contoh, di India dan
negara-negara Asia lainnya, tembakau tanpa asap dalam kombinasi dengan pinang,
daun sirih, kapur, dan bahan lainnya sangat berkaitan dengan risiko kanker mulut. Studi yang dilakukan hati di
luar AS terus menunjukkan bahwa tembakau yang digunakan dalam berbagai bentuk memiliki
risiko kanker mulut pada penggunanya. Tingkat risiko kanker mulut
kemungkinan bergantung pada produk atau kombinasi dari produk yang digunakan. Oleh karena itu, risiko
kanker mulut meningkat dengan peningkatan dosis produk. [ 4 ]
Snus
(nash) atau tembakau Swedia, adalah produk bubuk tembakau lembab diambil dari
varian tembakau kering di awal abad kesembilan belas di Swedia, itu dikonsumsi dengan
menempatkannya di bawah bibir untuk waktu yang lama. Nass adalah campuran
tembakau, abu, minyak kapas, dan kapur. [ 22] Di beberapa daerah di mana
nass diambil secara lisan, seperti di Asia Tengah, prevalensi leukoplakia
tinggi, dan kejadian kanker mulut relatif cukup tinggi untuk Negara jajahan
republik-republik Soviet lainnya [. 23 ]
Tiga
penelitian telah diidentifikasi yang telah berusaha untuk memahami mekanisme
seluler yang terlibat dalam perubahan epitel tembakau yang diinduksi
menggunakan jaringan mulut atau sel. [ 16, 24 , 25] Studi ini meneliti efek
dari tembakau Swedia pada indikator proliferasi sel (misalnya, Ki- 67) dan
penekan tumor dan penanda diferensiasi (misalnya, p53 tumor gen supresor). Studi ini menunjukkan
overekspresi protein Ki-67 dan tumor suppressor protein p53 mutan pada sampel
biopsi dari pengguna snus dan tidak ada ekspresi di biopsi kontrol.
Selain itu, dalam
penilaian bukti epidemiologi pada karsinogenisitas tembakau tanpa asap,
terdapat hal yang menarik untuk dipertimbangkan pada beberapa efek lokal di
rongga mulut. Leukoplakia rongga mulut umum ditemukan pada
pengguna tembakau dan kadang-kadang disebut sebagai snuff dipper’s lesion'. Ada kaitan yang
erat antara paparan (durasi dan intensitas) dan prevalensi, serta keparahan
lesi. Prevalensi micronuclei dan anomali nuklear
lainnya meningkat pada mukosa mulut pada pengguna tembakau, dan gen supresor
tumor p53 tampaknya menumpuk di leukoplakia oral pengguna tembakau. Sejumlah besar
laporan kasus telah dijelaskan karsinoma oral pada pengguna tembakau tanpa
asap, terjadi pada lokasi anatomi dimana tembakau secara rutin ditempatkan. [ 1 , 26 ]
Pada
pertengahan 1980-an, disimpulkan dari sejumlah besar literatur , tembakau tanpa
asap tembakau merupakan penyebab kanker mulut pada manusia. Evaluasi ini
didasarkan pada laporan kasus dan studi epidemiologi pada manusia dan
penelitian laboratorium menunjukkan bahwa senyawa N-nitrosamine yang hadir
dalam kadar tinggi tanpa asap tembakau dan bahwa senyawa ini menghasilkan
kanker pada hewan di laboratorium. Berdasarkan
bukti dari statistik tembakau tanpa asap, sangat popoler di kalangan remaja
dimulai pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Keprihatinan
telah diungkapkan bahwa kecenderungan ini dapat menyebabkan epidemi kanker
mulut di kalangan pria muda. [26 ]
Sebanyak 6
studi case control yang tersedia dari Swedia dan Amerika Serikat pada
penggunaan tembakau mulut dan kanker mulut. [ 1 ] salah satu studi
awal di Swedia menunjukkan peningkatan risiko kenker bukal dan gusi pada
pengguna tembakau.Tiga dari studi AS menunjukkan bukti hubungan antara
penggunaan tembakau dan kanker mulut. [ 1 ] Penelitian
kohort pada penggunaan tembakau dan kanker mulut memberikan bukti meyakinkan,
namun penafsiran yang seringkali sulit karena kekuatan statistik terbatas.
Untuk
karsinoma saluran pencernaan atas dan pankreas, peningkatan risiko telah
dilaporkan, namun bukti tersebut tidak konklusif. Di India,
Afghanistan dan Pakistan, penggunaan nass dikaitkan dengan peningkatan risiko
kanker mulut. Risiko relatif
melebihi 10 dapat diamati pada pengguna biasa, menunjukkan bahwa sebagian besar
dari kanker mulut yang disebabkan oleh paparan pada populasi di mana kebiasaan
tersebar luas.
Selain itu, dua pasien memiliki faktor risiko lain yang serupa dengan
konsumsi tembakau dan kecanduan opium, yang mungkin dapat menyebabkan kanker
mulut. Meskipun, kanker pada pasien ini telah
terjadi pada lokasi anatomi dimana bahan ini secara rutin ditempatkan, kanker
mulut paling sering terjadi pada lidah dan dasar mulut.
KESIMPULAN
Bukti dari populasi manusia menunjukkan bahwa pengguna tembakau tanpa
asap memiliki risiko kanker beberapa kali lebih tinggi dibandingkan tidak
mengkonsumsi-nya. Tembakau tanpa asap sangat sangat berhubungan dengan kanker
pipi dan gusi. Kanker pada tempat anatomi lainnya menunjukkan bahwa tembakau
tanpa asap juga dapat terkait dengan kanker saluran pencernaan bagian atas
lainnya.
Sumber : Dental Research Journal / January 2013 / Vol 10 / Issue 1
Sumber : Dental Research Journal / January 2013 / Vol 10 / Issue 1














